Artikel Pertanian

Kuliner Sunda

Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Mei 2014

Sejarah dan penulisan angka sunda bagian 1

angka dalam bahasa sunda Belajar sunda, Seperti halnya bahasa jawa, bahasa sunda sendiri ternyata memiliki aksara sunda yang banyak ditemukan dibeberapa prasasti yang ada di wilayah jawa barat. Prasasti itulah yang menjadi petunjuk bahwa ternyata kebudayaan sunda telah ada sekitar 16 abad yang lalu. Beberapa prasasti yang bisa dijadikan acuan diantaranya, prasasti kawali, dan prasasti batutulis, namun selain itu ada juga dalam beberapa cerita dan naskah yang tertulis dalam daun lontar.

Dari temuan tersebutlah dapat diidentifikasikan mengenai aksara dan huruf sunda setelah melalui penelitian yang lama. Dan dapat diambil suatu kesimpulan sederhana bahwa pada zaman dahulu komunikasi itu tidak hanya diucapkan akan tetapi ditulis dalam bentuk tertentu. 

Angka sunda
Sama halnya dengan angka biasa yang sering kita tulis, angka sunda sendiri terdiri dari 10 angka utama yaitu 1-2-3-4-5-6-7-8-9 dan 0, dan penulisan angka seterusnya pada prinsipnya memiliki kesamaan dengan angka biasa.*Lihat Gambar 1


Gambar 1: Perbandingan angka biasa dan angka sunda

Cara Penulisan
Angka sunda sebagaimana yang kita lihat tadi, memiliki pola lurus dan melengkung yang jika kita mencoba tidak akan begitu susah untuk ditirukan. Namun ada cara tertentu untuk mempermudah kita dalam melakukan penulisan. *Lihat gambar 3
Gambar 2 : Angka sunda 1 - 9

Gambar 3: Cara Penulisan Angka sunda 1 - 9

Sedangkan untuk penulisan "0" sama seperti saat menulis angka "0" cuma usahakan lebih bulat tidak lonjong ke atas atau ke samping. Angka-angka kecil warna hitam diatas (1,2 dan 3) adalah untuk mempermudah dan mana saja yang harus didahulukan, sedangkan tanda panah digunakan untuk menunjukan awal dan akhir ( akhir yaitu ujung panah).

Demikian tadi sedikit pengetahuan mengenai angka dalam sunda beserta cara penulisannya. Lain kali akan saya berikan mengenai aksara sunda dan sekarang sudah bisa kita nikmati dalam bentuk font yang bisa kita masukan ke komputer.

Jumat, 14 Juni 2013

Senjata Tradisional Khas Masyarakat Sunda yang terlupakan


Padi menguning. Bicara masalah senjata tentunya terlintas oleh benak kita bahwa senjata biasanya identik dengan kekerasan. Namun pada dasarnya senjata dibuat bukan untuk digunakan sebagai alat kekerasan akan tetapi untuk perlindungan dan memiliki fungsi yang beragam sesuai jenis senjata yang dibuat.

Sebagaimana yang kita ketahui Indonesia mempunyai beragam suku bangsa yan tentunya memiliki senjata khas masing-masing, ada keris dari jawa, ada celurit dari madura, ada mandau dari kalimantan, ada golok dari betawi dan lain-lain. Masyarakat sunda sendiri memiliki senjata tradisional yang dinamakan Kujang, dimana dahulu banyak difungsikan baik itu sebagai senjata, maupun alat pertanian.

Dari beberapa literatur yang ada Kujang merupakan senjata andalan Prabu Siliwangi yang mempunyai daya magis tersendiri dan sangat ditakuti oleh lawan-lawannya pada waktu itu. Kujang biasanya terbuat dari campuran bahan besi dan baja, dimana satu sisi sngat tajam dan sisi lainnya tidak dan dibuat tipis.

Kalau dilihat secara sepintas Kujang memiliki bentuk yang melengkung, namun berdasarkan beberapa peneliti ada lima bagian dari kujang yang disebut sebagai tajaman, congo, eluk, tadah dan mata. Pada jaman sekarang, selain fungsi diatas Kujang digunakan sebagai cinderamata, hiasan bahkan di daerah Bogor digunakan sebagai lambang daerah.

Bahkan ada juga yang percaya Kujang yang dibuat pada jaman dahulu adalah benda pusaka yang memiliki nilai sejarah, dan tentunya unsur magis. Namun apapun itu yang terpenting adalah bagaimana kita melestarikan dan menanamkan nilai-nilai falsafah yang benar kepada anak-anak kita mengenai budaya sunda pada khususnya dan budaya indonesia pada umumnya.

Jumat, 31 Mei 2013

Menjaga budaya dan adat istiadat leluhur kita di zaman modern

Padi Menguning. Kehidupan di pedesaan memang begitu kental dengan budaya dan adat istiadat, serta masih banyak diantaranya yang masih melestarikan budaya leluhur sampai sekarang ini. Kehidupan bergotong royong, tenggang rasa, serta rasa saling menghormati antar warga di pedesaan tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh sederhana ketika ada tetangga yang akan mendirikan rumah, maka tanpa komando mereka akan bahu membahu membantu tanpa meminta bayaran, selain itu keakraban selalu terjalin dengan indahnya. Tidak ada si kaya dan si miskin, tidak ada agama A dan B, tidak ada suku A dan B yang ada adalah rasa persaudaraan.

Walau jaman makin maju dan modern serta banyaknya budaya asing yang masuk, namun tidak membuat hal ini menjadikan budaya lokal yang telah turun temurun serta mendarah daging menjadi hilang begitu saja. Perpaduan antara budaya leluhur dan agama masih bisa dirasakan dalam kehidupan di pedesaan, diantaranya babarit.

Babarit merupakan istilah rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah yang telah diberikan yaitu berupa keselamatan, kesehatan, dan rejeki. Babarit sendiri biasanya dilakukan menjelang bulan-bulan tertentu misalkan Muharam.

Babarit bisa diartikan sebagai makan bersama disuatu tempat yang telah ditentukan oleh kokolot lembur (orang yang dituakan) dimana masing-masing keluarga akan membawa makanan beserta beberapa ketupat kecil yang dibungkus daun kelapa muda dan bambu beserta tanaman jenis ilalang yang tumbuh ditebing-tebing pekarangan rumah . Tempat yang biasa digunakan untuk melaksanakan acara ini yaitu perempatan atau pertigaan jalan kampung.

Setelah semua warga berkumpul mereka akan menaruh ketupat tadi di sebuah bambu yang telah disiapkan sebelumnya, hal ini juga sebagai pertanda bahwa kegiatan babarit akan segera dilaksanakan. Selanjutnya kokolot lembur akan memimpin do'a dan pada akhir kegiatan mereka akan makan bersama.

Namun perlu diketahui sebelum meninggalkan tempat tersebut, ketupat yang tadi ditaroh akan dibawa pulang kerumah namun bukan untuk dimakan akan tetapi untuk ditaroh di pintu rumah atau pintu kandang peliharaan baik itu ayam, kambing dan sejenisnya. Ada yang percaya bahwa hal tersebut dilakukan semata-mata agar rumahnya berkah, selamat serta selalu dihindarkan dari musibah.

Itu adalah sebuah tradisi yang telah membudaya dikalangan masyarakat pedesaan tertentu, dimana di desa tersebut masih terdapat kata Pamali dan Mitos. Salah atau benarnya tradisi tersebut hanya Allah SWT yang tahu. Yang utama adalah sebagai orang baragama kita tidak boleh menyekutukan Allah dengan meminta-minta atau memohon bukan kepada Allah SWT.