Artikel Pertanian

Kuliner Sunda

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Juni 2013

Panggilan untuk anak laki-laki dan perempuan dalam masyarakat sunda


Padi menguning. Budaya sunda adalah salah satu budaya milik indonesia yang harus tetap dilestarikan agar keberadaannya tidak tergerus oleh budaya asing yang semakin tidak bisa dibendung. Salah satu unsur untuk melestarikan dan memperkenalkan mengenai Kasundaan kepada generasi penerus adalah dengan menyisipkan pelajaran bahasa sunda ke dalam lingkungan sekolah.

Walau hal ini dirasa masih kurang namun setidaknya merupakan nilai plus yang patut diacungi jempol, sebagai upaya melestarikan budaya lokal. Namun ada wacana yang telah beredar dimasyarakat khususnya wilayah sunda, dimana pelajaran mulok bahasa sunda akan ditiadakan.

Apabila hal ini sampai terjadi kemungkinan besar beberapa tahun yang akan datang generasi muda tidak akan mengetahu mengenai Kasundaan, karena terus terang saja dilingkungan rumah tangga, lingkungan pedesaan tidak diajarkan mengenai hal tersebut. Nah untuk itu saya akan mencoba memberikan sedikit pengetahuan saya mengenai Kasundaan terutama mengenai panggilan untuk anak laki-laki dan perempuan dalam masyarakat sunda

Dalam masyarakat sunda anak laki-laki biasanya akan dipanggil "Ujang" atau "jang" sedangkan untuk anak perempuan biasa dipanggil "neng" atau "eneng". Dalam penyebutannya ada yang diikuti dengan nama asli atau cukup dengan kata "ujang' atau "neng", misalkan; jang asep, jang ebin, neng ana, neng ira dan lain sebaginya.

Nah lalu kapan sebutan ini akan hilang, pada umumnya panggilan "ujang" dan "neng" ini akan hilang dengan sendirinya setelah anak tersebut menikah (untuk orang lain). Namun khusus untuk orang tua si anak tersebut panggilan ini biasanya akan terus diucapkan selama mereka masih hidup.

Selain sebagai kata panggilan ada juga orang tua yang menamakan anaknya dengan nama "ujang" atau "neng". Namun hal ini sekarang jarang dilakukan, karena banyak orang tua yang beranggapan bahwa menamakan anak dengan ujang atau neng adalah nama kampungan. Mereka lebih senang menamakan anaknya dengan nama-nama keren atau sesuai dengan idola mereka.

Sebenarnya menamakan anak dengan Ujang atau Neng merupakan salah satu cara dalam melestarikan serta sebagai identitas bahwa anak tersebut berasal dari Sunda. Kalo bukan diri kita yang melestarikannya lalu siapa lagi? Mari kita bahu membahu menjaga keragaman budaya dinegara ini walau hanya sedikit saja.

Jumat, 31 Mei 2013

Menjaga budaya dan adat istiadat leluhur kita di zaman modern

Padi Menguning. Kehidupan di pedesaan memang begitu kental dengan budaya dan adat istiadat, serta masih banyak diantaranya yang masih melestarikan budaya leluhur sampai sekarang ini. Kehidupan bergotong royong, tenggang rasa, serta rasa saling menghormati antar warga di pedesaan tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh sederhana ketika ada tetangga yang akan mendirikan rumah, maka tanpa komando mereka akan bahu membahu membantu tanpa meminta bayaran, selain itu keakraban selalu terjalin dengan indahnya. Tidak ada si kaya dan si miskin, tidak ada agama A dan B, tidak ada suku A dan B yang ada adalah rasa persaudaraan.

Walau jaman makin maju dan modern serta banyaknya budaya asing yang masuk, namun tidak membuat hal ini menjadikan budaya lokal yang telah turun temurun serta mendarah daging menjadi hilang begitu saja. Perpaduan antara budaya leluhur dan agama masih bisa dirasakan dalam kehidupan di pedesaan, diantaranya babarit.

Babarit merupakan istilah rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah yang telah diberikan yaitu berupa keselamatan, kesehatan, dan rejeki. Babarit sendiri biasanya dilakukan menjelang bulan-bulan tertentu misalkan Muharam.

Babarit bisa diartikan sebagai makan bersama disuatu tempat yang telah ditentukan oleh kokolot lembur (orang yang dituakan) dimana masing-masing keluarga akan membawa makanan beserta beberapa ketupat kecil yang dibungkus daun kelapa muda dan bambu beserta tanaman jenis ilalang yang tumbuh ditebing-tebing pekarangan rumah . Tempat yang biasa digunakan untuk melaksanakan acara ini yaitu perempatan atau pertigaan jalan kampung.

Setelah semua warga berkumpul mereka akan menaruh ketupat tadi di sebuah bambu yang telah disiapkan sebelumnya, hal ini juga sebagai pertanda bahwa kegiatan babarit akan segera dilaksanakan. Selanjutnya kokolot lembur akan memimpin do'a dan pada akhir kegiatan mereka akan makan bersama.

Namun perlu diketahui sebelum meninggalkan tempat tersebut, ketupat yang tadi ditaroh akan dibawa pulang kerumah namun bukan untuk dimakan akan tetapi untuk ditaroh di pintu rumah atau pintu kandang peliharaan baik itu ayam, kambing dan sejenisnya. Ada yang percaya bahwa hal tersebut dilakukan semata-mata agar rumahnya berkah, selamat serta selalu dihindarkan dari musibah.

Itu adalah sebuah tradisi yang telah membudaya dikalangan masyarakat pedesaan tertentu, dimana di desa tersebut masih terdapat kata Pamali dan Mitos. Salah atau benarnya tradisi tersebut hanya Allah SWT yang tahu. Yang utama adalah sebagai orang baragama kita tidak boleh menyekutukan Allah dengan meminta-minta atau memohon bukan kepada Allah SWT.