Artikel Pertanian

Kuliner Sunda

Tampilkan postingan dengan label Cara Bertani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cara Bertani. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Februari 2013

Nasib ratusan hektar sawah di tangan generasi muda

Padi Menguning. Kecamatan Dayeuhluhur- Ratusan Ha sawah terpampang luas di wilayah ini,dimana sawah sebagai tempat mencari nafkah bagi sebagian besar penduduk di Kecamatan Dayeuhluhur. Hasil dari bertani ini selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yaitu makan, juga sebagian lagi di jual baik itu untuk membiayai kebutuhan lainnya, seperti sekolah anak-anaknya, tabungan dan lain-lain.

Seiring perkembangan jaman nampaknya suatu saat nanti areal pesawahan ini akan beralih fungsi atau bahkan tidak terurus lagi apabila generasi penerus banyak yang tinggal di kota atau memang generasi penerus tersebut tidak mulai diajarkan untuk bertani. Ketika hal ini terjadi maka bisa kita bayangkan beberapa tahun kemudian, apa yang akan terjadi dengan hamparan sawah, mungkin tidak akan ada lagi padi yang menguning, bahkan petak sawahpun sudah tidak kelihatan lagi.

Hal ini tidak bisa dipungkiri berdasarkan kenyataan yang ada di lingkungan sekitar. Pertama, sekarang di wilayah Desa Panulisan sangat susah sekali mencari orang untuk sekedar mencangkul, menanam padi, jikalau ada kebanyakan dari mereka adalah para orang tua dengan umur diatas 50 tahun. Kedua, generasi penerus jarang yang diajarkan untuk bertani atau sekedar ikut pergi kesawah bahkan ada yang belum pernah menginjakan kaki di galengan sawah. Ketiga, generasi yang ada banyak yang meninggalkan desa dan pergi ke kota baik itu untuk mencari ilmu atau mencari pekerjaan. Keempat, generasi sekarang lebih memilih bekerja di kota dari pada meneruskan lahan pertanian milik orang tuanya.

Dan masih banyak lagi fakta lain yang bisa dilihat, sedangkan yang terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia bahwa cara bertani yang dipakai adalah masih tradisional belum menggunakan mesin. dan tentunya manusia masih sangat dibutuhkan sekali dalam proses bertani. 

Jika hal ini terjadi maka akan sangat dimungkinkan sekali suatu saat nanti banyak areal pesawahan yang hilang dan beralih fungsi, jikalau tidak ada generasi yang meneruskan dan mau bertani. Jika semakin banyak lahan pertanian yang menyusut, sedangkan makanan pokok masih nasi, yang terjadi adalah semakin susahnya mencari nasi dan mungkin harganya akan semakin mahal. Hal ini justru akan menimbulkan adanya impor beras dari negara lain.  

Entah siapa yang patut disalahkan atau memang tidak ada yang salah dari semua ini, yang pasti jikalau suatu saat ini terjadi yang tidak akan berubah hanya satu yaitu makanan utama kita tetap "NASI". 
*sekedar pendapat penulis yang didasarkan pada kenyataan yang ada dilapangan

Harga gabah dan nasib petani pedesaan


Padi menguning. Musim panen adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh petani pemilik sawah maupun buruh sawah. Karena jerih payah mereka dari mulai musim tanam, akan ditentukan. Apakah padi yang dihasilkan itu telah sesuai yang diinginkan atau malah jauh dari harapan.

Hal ini dikarenakan selama musim tanam telah banyak uang yang harus dikeluarkan baik itu untuk upah pekerja maupun pembelian pupuk. Jadi jika gabah yang dihasilkan sedikit tentu petani akan rugi.

Musim panen adalah musim dimana banyak orang-orang yang mencari pekerjaan, baik itu untuk jasa angkut dari sawah ke jalan, atau jasa Gacong. Gacong merupakan istilah dari memanen atau memetik padi di sawah orang lain. Dimana mereka akan diberi upah berdasarkan jumlah gabah yang berhasil didapat.

Setiap kampung memiliki pengupahan sendiri, ada yang 1:9, 1,5:9. artinya setiap 9 Kg gabah yang berhasil didapat akan diberikan upah gabah sebanyak 1-1,5 Kg. Namun ada juga yang menggunakan sistim bagi hasil. Hasil selama satu hari penuh dari para buruh tani ini biasanya tidak lebih dari 50 Kg, dan itu tidak hanya dari satu pemilik sawah, bisa 2 atau 3. Itu artinya jika di tempat satu telah selesai mereka akan mencari tempat lain yang membutuhkan jasa mereka.

Para buruh tani ini biasanya akan bekerja memetik padi pada sore dan pagi hari. Sorenya untuk memotong batang padi dan paginya untuk merontokan padi atau ngagebug. Adapula yang pagi hari memotong dan sekaligus di rontokan. Alat yang digunakan biasanya berupa, arit dan saron/perontok. Saron merupakan alat untuk memisahkan padi dari batangnya dengan cara di pukulkan.

Beralih pada harga gabah, biasanya para tengkulak/pengepul padi dimusim panen seperti ini membeli padi dengan harga yang murah. Itulah sebabnya para petani yang memiliki tempat penyimpanan biasanya disimpan dulu baru ketika mereka membutuhkan uang dan harga sedang bagus akan dijual ke pengepul.

Harga per Kwintal padi di musim panen seperti ini tidak lebih dari 350.000/Kwintal. Dan itu merupakan harga yang sudah bagus untuk ukuran harga dimusim panen. Hal ini mungkin disebabkan didaerah lain tidak sedang panen padi atau sedang mengalami kekeringan bahkan kebanjiran.

Jika hal ini terus berlangsung, maka petanilah yang akan dirugikan. Perlu suatu sistem yang bener-benar bisa mengatur harga padi dipasaran. dan hal ini menjadi tanggung jawab dari pemerintah sebagai jembatan dari ekonomi.

Tag; gabah, petani, musim panen, sawah